Brigadir Petrus Bisa Lolos Dari Jeratan Hukum

Share:

pterus-polisi-mutilasi-anak_20160227_210811

Diposkan.comKasus pembunuhan dan mutilasi terhadap kepada dua balita yang dilakukan oleh seorang yang ayah dan sebagai Aggota satuan intelkam Kepolisian di Kabupaten Melawi,  Kalimantan Barat yang terjadi pada Jumat (26/2) dini hari bisa saja lolos dari jeratan hukum.

Menurut pengamat Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Dr. Hermansyah, menyatakan bhwa kasus yang melibatkan Brigadir Petrus Bakus bisa lolos dari hukuman jika tersangka ternyata mengidap gangguan jiwa, pernyataan tersebut diperkuat dengan KUHP pasal 44 mengatakan bahwa perbuatan yang melanggar hukum dan pelaku mengidap gangguan jiwa atau daya akalnya cacat akan bisa lolos dari jeratan hukum.

“Ada pasal yang sudah diatur dalam kitab undang undang hukum pidana (KUHP), yaitu pasal 44. Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena daya akalnya (zijner verstandelijke vermogens) cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana,” Ujar Dr. Hermansyah.

Baca Juga:   Pakar Komunikasi Politik Pandang Ahok Sebagai Teladan Baik

Maka dari itu perlunya saksi ahli untuk memeriksa tentang dugaan bahwa tersangka mengidap Skizoprenia (ganguan kejiwaan).

“Untuk menentukan atau melihat kejiwaan seseorang dibutuhkan seorang saksi ahli, apakah itu psikolog atau psiater,” Tambah Hermansyah.

Menurut Hermasyah kika memang tersangka terbukti mengidap Skizoprenia (ganguan kejiwaan), tersangka tidak akan ditahan  dalam penjara namun seharusnya dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa untuk mendapatkan penagangan dari ahlinya.

Brigadir Petrus Bisa Lolos Dari Jeratan Hukum | Hendry Setio Prakoso | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya