Tiga Mahasiswa UGM Ciptakan Bensin dari Minyak Jelantah

Share:

minyak-jelantah

Diposkan.com – Asosiasi Pedagang Kreatif Lapangan Indonesia (APKLI) yang menaungi ribuan pedagang “gorengan” dan sejenisnya di tanah air menyebutkan, penggunaaan minyak goreng setiap tahunnya mencapai tiga juta ton. Hal ini belum ditambah dengan konsumsi rumah tangga maupun bisnis lainnya yang menggunakan minyak goreng.

Minyak goreng yang sudah digunakan banyak yang dibuang. Hanya sebagian masyarakat saja yang mengelolahnya kembali menjadi biodiesel untuk keperluan bahan bakar hingga sabun cuci. Namun, tidak bagi tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melangkah lebih maju lagi, dengan mengolah minyak jelantah menjadi biogasolin atau bensin.

Mereka adalah Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pambudi, mahasiswa Kimia, dan Endri Geofani dan Fakultas Pertanian. Di laboratorium kampus setempat, ketiganya mendemonstrasikan bagaimana cara memproduksi bensin dari minyak jelantah.

Menurut Khoir Eko Pambudi, minyak jelantah dipilih untuk mendorong masyarakat tidak memakai minyak goreng berulangkali yang berdampak buruk pada kesehatan. Di samping itu, minyak jelantah juga tersedia melimpah, terutama di kalangan pedagang gorengan, camilan yang sangat populer di Indonesia.

Eko Pambudi menambahkan, kunci proses perubahan ini dengan adanya katalis yang dibuat dari tanah liat, yang diaktifkan dengan logam kadium. Tanah liat dipilih karena merupakan material yang bisa ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia dan murah.

“Kita memakai katalis yang berasal dari alam, dan itu tinggal menggali tanah saja sudah bisa mendapatkannya. Kita menggunakan limbah juga, dan tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi yaitu minyak jelantah. Dan katalisnya juga kita desain untuk bisa digunakan berulangkali, karena dalam prakteknya saat ini di kebanyakan industri, katalis hanya bisa dipakai sekali,” kata Khoir Eko Pambudi kepada VOA yang dilansir dari pikiran-rakyat.com.

Anggota tim peneliti yang lain, Abdul Afif Almuflih mengatakan, proses produksi bensin dimulai dengan memanaskan minyak jelantah. Uap hasil pemanasan akan mengalir melalui pipa yang sudah diisi katalis tadi, dan menetes di bak penampung sebagai bahan bakar baru. Dalam penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun lalu itu, dari satu liter minyak jelantah, akan dihasilkan 420 ml bensin dan 290 ml diesel atau solar.

Baca Juga:   Harga BBM Eceran Tinggi, Pertamina Kecolongan

Afif meyakini penggunaan minyak goreng baru akan lebih efisien dalam proses produksi biogasolin ini. Sehingga sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki peluang untuk memproduksi bensin berbahan baku minyak sawit dalam skala industri.

“Penelitian ini kami harapkan menjadi langkah awal, yang nantinya minyak kelapa sawit murni itu dapat dijadikan bahan baku dan diproduksi secara massal untuk bahan bakar minyak (BBM). Apalagi Indonesia memiliki potensi kelapa sawit yang sangat berlimpah khususnya di wilayah barat,” jelas Abdul Afif Almuflih.

Penelitian ini setidaknya telah memenangkan empat penghargaan dunia. Keempatnya adalah medali emas dari World Invention Intellectual Property Association (WIIPA) , medali emas dari Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), perunggu dari Malaysian Technology Expo (MTE) 2016, dan penghargaan khusus dari Toronto International Society of Innovation & Advanced Skills (TISIAS) Kanada.

Tiga Mahasiswa UGM Ciptakan Bensin dari Minyak Jelantah | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya