OJK Terus Pantau Perkembangan Industri Keuangan Syariah

Share:

diposkan-perbankan-syariah2

Diposkan.com – Industri keuangan syariah nasional masih harus menempuh perjuangan yang panjang. Indonesia yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam belum dapat mendongkrak industri keungan syariah yang masih baru mencapai 5 persen.

Wakil Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rahmat Waluyanto menyebutkan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, industri keuangan syariah Indonesia masih menunjukkan kinerja yang membaik. Hal ini tercatat pangsa pasar industri perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional menunjukkan kenaikan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu meningkat dari 4,60 persen di Juli 2015 menjadi 4,81 persen di Juli 2016.

Namun pangsa pasar ini diperkirakan bisa mencapai sekitar 5,13 persen apabila turut memperhitungkan hasil konversi BPD Aceh menjadi Bank Umum Syariah.  Rahmat menambahkan, jika industri keuangan syariah sedang menghadapi tantangan baru dalam menghadapi era perekonomian yang melambat dan tingkat konsumsi yang menurun.

Sehingga industri keuangan syariah harus menyiapkan diri beradaptasi secara tepat agar mampu bertahan dan terus berkembang dengan baik. OJK akan terus mengembangkan industri keuangan syariah, seperti meningkatkan kemampuan SDM keuangan syariah, mendorong produk keuangan syariah yang inovatif untuk memperdalam pasar, meningkatkan akses ke lembaga keuangan syariah, dan memperbesar konsumen keuangan syariah.

Baca Juga:   PT Adhi Karya Menangkan Tender Renovasi Gelora Bung Karno

OJK juga mencatatkan kenaikan aset perbankan syariah (BUS dan UUS) sebesar 18,49 persen (year on year/yoy), yaitu dari Rp 272,6 triliun per Juli 2015 menjadi Rp 305,5 triliun per Juli 2016. Kenaikan ini didorong karena adanya peningkatan penghimpunan dana dari pihak ketiga sebesar 12,54 persen (yoy), yaitu dari Rp216 triliun per Juli 2015 menjadi Rp243 triliun per Juli 2016. Pembiayaan ini digunakan untuk mendorong penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 7,47 persen (yoy), dari Rp204,8 triliun per Juli 2015 menjadi Rp220,1triliun.

Sementara untuk pasar modal syariah, persentase nilai masing-masing efek syariah dari total efek per tanggal 23 September 2016 adalah sebagai berikut, saham syariah sebesar 55,97 persen, sukuk korporasi sebesar 3,88 persen, reksa dana syariah sebesar 3,76 persen dan sukuk negara sebesar 15,08 persen.

Sedangkan perkembangan industri keuangan non bank (IKNB) Syariah sampai Juli 2016, total aset IKNB Syariah meningkat sebesar 23,18 persen menjadi Rp80,1 triliun. Pertumbuhan aset didominasi oleh penambahan pelaku usaha serta pengembangan produk dan layanan IKNB Syariah.

OJK Terus Pantau Perkembangan Industri Keuangan Syariah | Fisika Fikri | 4.5 | Tag: perkembangan sukuk negara

Kirim Komentar

Berita Lainnya