Petani Tebu Tolak Kebijakan Pemerintah Impor Raw Sugar

Share:
BI/hal Cap foto Eds 031111 wd File:4tebu 2 BISNIS/WAHYU DARMAWAN Pekerja memanen tanaman tebu di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/11). Produksi gula sepanjang 2011 diperkirakan mencapai 2,1 juta ton atau sekitar 77% dari proyeksi 2,7 ton yang ditetapkan sebelum masa giling. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyatakan penurunan produksi tersebut akibat anomali cuaca, sehingga tebu tidak tumbuh maksimal dan memiliki rendemen rendah.

BI/hal
Cap foto
Eds 031111
wd
File:4tebu 2
BISNIS/WAHYU DARMAWAN
Pekerja memanen tanaman tebu di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/11). Produksi gula sepanjang 2011 diperkirakan mencapai 2,1 juta ton atau sekitar 77% dari proyeksi 2,7 ton yang ditetapkan sebelum masa giling. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyatakan penurunan produksi tersebut akibat anomali cuaca, sehingga tebu tidak tumbuh maksimal dan memiliki rendemen rendah.

Diposkan.com – Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) menolak impor raw sugar sebanyak 381 ribu ton yang akan dilakukan pemerintah. Alasannya, neraca gula 2016 belum menetapkan adanya defisit gula.

“Taksasi produksi gula giling tahun 2016 secara riil baru diketahui sekitar bulan Agustus 2016 pada saat puncak musim giling, sehingga akan diketahui stok gula cukup apa tidak,” kata Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen melalui siaran persnya di Jakarta, Minggu (22/5_ seperti yang dilansir inilah.com.

Soemitro menegaskan, dalam Sarasehan Persiapan Giling Tebu 2016 yang digelar di Graha Kebon Agung, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu menyimpulkan bahwa impor raw sugar belum perlu. Hal ini menanggapi surat Menteri BUMN Nomor : S-289/MBU/05/2016 tanggal 12 Mei 2016 perihal Impor Raw Sugar tahun 2016 dimana menugaskan PTPN X untuk melakukan impor raw sugar sebanyak 381.000 ton.

Baca Juga:   Kadin Minta Pihak Swasta Kelola Infrastruktur Transportasi

APTRI juga mempertanyakan dasar perhitungan kebutuhan impor raw sugar 381.000 ton yang tidak jelas. Sehingga APTRI mengkhawatirkan akan kelebihan stok gula di tahun 2016 sehingga akan melebihi kebutuhan dan dampaknya harga gula akan turun.

Kebijakan impor raw sugar dengan dalih sebagai kompensasi agar PTPN dan PT RNI menjamin rendemen minimal 8,5% adalah kebijakan instan dan tidak mendidik. Akar masalah rendemen rendah karena pabrik gula tidak efisien.  Soemitro mengatakan kebijakan impor raw sugar untuk idle capacity seharusnya ditempuh ketika produksi gula nasional lebih rendah dibanding konsumsi nasional. Atau pabrik gula kekurangan bahan baku. Persoalannya kemudian pabrik gula yang tidak efisien akan ditinggalkan petani sehingga praktis kekurangan tebu.

Keuntungan dari hasil mengolah raw sugar bagi pabrik gula yang tidak efisien akan habis untuk menjamin rendemen kepada petani. Jadi tidak mungkin dari keuntungan mengolah raw sugar itu untuk merevitalisasi pabrik gula. Para petani sangat mendukung jaminan rendemen 8,5 persen tanpa embel-embel kompensasi impor raw sugar.

Kata Soemitro, importasi raw sugar pernah dilakukan oleh pabrik gula BUMN mauun swasta tetapi tidak ada dampak positif terhadap perbaikan kinerja PG. Saat ini, HPP gula tani belum ditetapkan, sehingga petani belum mendapat kepastian dalam menghitung hasil minimal pendapatan pada saat panen, sehingga petani mendesak segera ditetapkan HPP gula tani sebesar Rp. 10.600/kilogram.

Penjualan gula milik petani tetap dilaksanakan oleh petani sendiri seperti pada tahun- tahun sebelumnya. Saat ini harga gula sangat tingggi mencapai 15.000/kilogram sehingga memberatkan konsumen. Soemitro menduga tingginya harga gula adalah skrenario dari pemerintah untuk mengesankan seakan-akan stok gula tidak ada sehingga ujungnya minta impor.

Petani Tebu Tolak Kebijakan Pemerintah Impor Raw Sugar | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya