Pengamat INDEF Ingin Indonesia Ikuti Trump

Share:

diposkan-donaldtrump

Diposkan.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemerintah tak perlu lagi memikirkan komitmen keikutsertaan Indonesia dalam Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (Trans Pacific Partnership/TPP) pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menarik diri dari TPP.

Ahmad Heri Firdaus, pengamat ekonomi Indef mengatakan, dengan keluarnya AS dari TPP hanya akan menguntungkan negara lain jika Indonesia masih tergabung. Hal ini dilihat dengan adanya kebijakan hambatan non-tarif yang diberlakukan dalam kesepakatan multilateral itu. Hambatan non-tarif membuat tiap-tiap negara dalam TPP tak boleh memberikan bea masuk terhadap hasil industri yang diekspor, termasuk ke Indonesia.

“Hambatan non-tarif dapat meningkatkan volume dan nilai perdagangan Indonesia ke negara lain. Tapi di sisi lain, bayang-bayang peningkatan perdagangan negara lain jauh lebih besar,” ujar Heri yang dilansir melalui cnnindonesia.com Minggu (22/1).

Heri menyebutkan, peluang peningkatan volume dan nilai perdagangan negara lain ke Indonesia akan jauh lebih besar karena ditopang oleh industri dari negara lain yang jauh lebih kuat dibandingkan industri dalam negeri. Terlebih saat ini industri manufaktur, jasa, dan industri pendukung Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari Vietnam yang telah bergabung dengan TPP.

Data Bank Dunia mencatat, di era 1990, pertumbuhan industri manufaktur Indonesia bereda dikisaran 11 persen sedangkan Vietnam belum menunjukkan potensi industri tersebut di negaranya. Memasuki era 2000, pertumbuhan ekspor industri manufaktur Indonesia sebesar 0,6 persen. Sementara Vietnam hanya 0,2 persen.

Baca Juga:   APROFI : Industri Film Beri Dampak Positif Bagi Sektor Industri Daerah

Namun, catatan terakhir Bank Dunia pada 2014 lalu, pertumbuhan ekspor manufaktur Vietnam telah meningkat hingga 0,9 persen sedangkan Indonesia stagnan di 0,6 persen.

“Ini menandakan, Indonesia perlu memperkuat basis industri terlebih dahulu sebelum bergabung dengan perdagangan bebas, seperti menguatkan hilirisasi dan memberi nilai tambah serta daya saing,” imbuh Heri.

Heri mengatakan, Indonesia juga belum siap untuk ikut serta dalam perjanjian perdagangan bebas karena masih menggantungkan kinerja ekspor di sektor komoditas. Hal ini membuat kinerja ekspor mudah terguncang saat terjadi pelemahan harga komoditas dunia, seperti harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Untuk diketahui, usai dilantik menjadi Presiden AS, Trump resmi mencabut komitmen AS bergabung dalam TPP. Kebijakan itu disebut sebagai bentuk perlindungan terhadap tenaga kerja AS.

“Kami membatalkan semua rencana kerja sama yang bisa merugikan pekerja AS. Namun AS dalam posisi untuk melanjutkan renegosiasi the North American Free Trade Agreement (NAFTA), yang dibuat pada 1994 bersama Kanada dan Meksiko,” bunyi pernyataan resmi dari kantor Trump, kemarin.

Trump menilai, perjanjian perdagangan bebas semacam TPP hanya mengakomodir kepentingan pejabat di Washington yang menerima kerja sama perdagangan, namun tak menguntungkan kaum pekerja AS.

Pengamat INDEF Ingin Indonesia Ikuti Trump | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya