XL dan Indosat Bantah Praktek Kartel Usaha

Share:

diposkan-xl-indosat

Diposkan.com – Pembentukan usaha patungan atau joint venture PT One Indonesia Synergy (OIS) yang dilakukan antara PT Indosat Tbk. (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk. (EXCL) diklaim telah melalui konsultasi dan memperoleh persetujuan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo, mengatakan persetujuan itu penting untuk memastikan bahwa pembentukan perusahaan tersebut tidak menyalahi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Pembentukan PT OIS sudah melalui proses yang benar dan mendapatkan clearance dari pihak yang berwenang yaitu KPPU,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (21/10) yang dilansir dari bisnis.com.

Hal ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa pembentukan perusahaan tersebut tidak menyalahi peraturan persaingan usaha. Sehungga Deva memastikan jika One Indonesia Synergy bukan merupakan objek hukum UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang persaingan usaha.

Lebih lanjut, Deva menyatakan bahwa dalam melaksanakan kegiatan perusahaannya, Indosat Ooredoo selalu patuh pada seluruh peraturan yang berlaku dan menerapkan prinsip good corporate dan public governance. Begitu juga dalam  melaksanakan kegiatan perusahaan, Indosat Ooredoo selalu patuh pada seluruh peraturan yang berlaku dan menerapkan prinsip good corporate dan public governance.

Pembentukan usaha patungan tersebut juga telah dilaporkan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam keterbukaan informasi tersebut disebutkan masing-masing XL dan Indosat berbagi saham 50%:50% di perusahaan patungan tersebut, atau masing-masing mengantongi 1.251 lembar saham.

Baca Juga:   Kemendag Temukan 139 Produk Illegal

Modal dasar pembentukan perusahaan patungan tersebut Rp10 miliar, modal ditempatkan Rp2,5 miliar dan modal disetor Rp2,5 miliar. Sumber pendanaan berasal dari kas masing-masing XL dan Indosat.

Dengan adanya konsultasi dengan KPPU maupun keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, hal itu mematahkan tudingan Forum Masyarakat Peduli Telekomunikasi Indonesia yang menduga perusahaan patungan tersebut berpotensi mengarah ke kartel industri.

Sebelumnya, Alexander Rusli, Presdir dan CEO Indosat Ooredoo, dan Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata, mengaku heran mengingat isu kartel harusnya muncul jika suatu usaha sudah berjalan dan memberikan dampak. Apalagi Dian menyebut kerjasama yang dilakukan dengan kedua perusahaan bukan untuk masalah bisnis, melainkan untuk kerjasama operasional.

“PT OIS sendiri merupakan konsultan yang dibuat untuk melakukan kerjasama operasional, bukan kerjasama bisnis. Mengenai isu kartel bisa terjadi kalau sudah beroperasi dan ada dampaknya, sementara OIS kan belum beroperasi,” ungkap Dian.

Sementara Alexander Rusli menyatakan PT OIS sendiri masih butuh waktu lama untuk beroperasi. Dia memperkirakan kuartal III tahun depan merupakan waktu paling cepat OIS bisa beroperasi.

“Saya tidak ngerti mereka yang bilang kartel. Pangsa pasar (di luar Jawa) kita (Indosat) ini kan cuma 4%. Mau mengatur harga? Enggak bisa. XL cuma 4%, kita 4%, yang satu lagi 86%, bagaimana bisa kita predatory fixing kalau sekecil itu?” tanya Alex.

XL dan Indosat Bantah Praktek Kartel Usaha | Fisika Fikri | 4.5 | Tag: persetujuan antara franchisor dan franchisee

Kirim Komentar

Berita Lainnya