Pengusaha Tekstil Masih Gunakan Truk Angkut Barang Ekspor

Share:

diposkan-tekstil

Diposkan.com – Pemerintah melakukan sosialisasi kepada pengusaha untuk mendorong ekspor menggunakan Kereta Api Peti Kemas Gedebege-Tanjung Priok sebagai alternatif angkutan barang yang saat ini masih didominasi angkutan truk.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudrajat mengatakan, pihaknya menilai penggunaan kereta api peti kemas lebih mahal daripada truk. Angkutan menggunakan truk mengeluarkan biaya Rp 4,4 juta per kontainer 40 feet sementara jika menggunakan kereta dengan muatan sama dibutuhkan dana Rp 4,6 juta.

Sain itu jika menggunakan kereta dikenai biaya truk dari pabrik menuju stasiun dan pajak yang dikenakan. Jika dihitung bersih, biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan kereta peti kemas menjadi sekitar Rp 5,5 juta per 40 feet kontainer.

Sementara itu, pajak yang dikenakan kepada pengusaha sebesar 30%-40% dari biaya operasional. Pajak tersebut merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ditetapkan Kemenhub. Oleh karena itu, Ade meminta Kemenhub untuk mengurangi PNBP.

Saat ini Ade mengaku sudah mengusulkan kepada Kemenhub untuk menurunkan PNBP tersebut hingga 10%. Hal itu untuk menurunkan biaya logistik barang sehingga makin banyak pengusaha yang menggunakan jasa kereta api ini.

Baca Juga:   Budi Bentuk Satgas OPP Cegah Pungli di Kemenhub

“35-45% dari BOP, saya usul PNBP turun jadi 10%. Saya sudah bilang ke Kemenhub, itu masalah sedang dicari solusinya,” kata Ade.

Apalagi banyak kelebihan dengan menggunakan kereta seperti pengiriman barang lebih cepat yaitu sekitar 4-5 jam perjalanan. Misalnya jika berangkat dari Stasiun Gedebege pukul 19.25 WIB akan tiba di Tanjung Priok sekitar pukul 00.37 WIB.

Dengan waktu yang lebih cepat, biaya yang lebih mahal pada angkutan kereta bisa terkompensasi dari rendahnya risiko kerusakan dan hilangnya barang selama perjalanan. Sedangkan jika menggunakan truk berisiko terkena macet, apalagi jika pengiriman di akhir pekan atau libur nasional. Belum lagi, risiko kecelakaan, dan ketidak amanan seperti dirampok di tengah jalan.

“Tapi dengan trucking ini kan kita punya resiko yang enggak bisa dihitung. Apa terjadi kecelakaan, atau terjadi bannya kempes atau apa, mogok, bajing loncat di tengah jalan itu semua kan unpredictable. So, kalau kereta api jauh terhindar dari masalah-masalah itu,” kata Ade.

Pengusaha Tekstil Masih Gunakan Truk Angkut Barang Ekspor | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya