Pertamina : Wajar Harga BBM Non Subsidi Turun Naik

Share:

diposkan-bbm-non-subsidi

Diposkan.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yakni Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo merupakan hal biasa dan mengikuti pasar. Karena menurut Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang, jenis BBM ini adalah BBM umum, bukan BBM subsidi.

“Pertamax series itu sama dengan BBM yang dijual di SPBU Shell, Total, dan AKR. Harganya memang fluktuatif, bisa berubah tiap 2 minggu mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/1) yang dilansir dari pikiran-rakyat.com.

Sehingga kenaikan BBM ini tak diperlukan keputusan menteri seperti BBM Shell, Total, dan AKR. Berbeda dengan mekanisme penetapan harga Solar dan Premium, semua ini diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 (Perpres 191/2014). Dalam pasal 15 ayat 2 Perpres 191/2014 disebutkan, untuk Harga Indeks Pasar (HIP) BBM umum ditetapkan Badan Usaha dan dilaporkan pada Menteri ESDM.

Artinya, Pertamina sebagai badan usaha cukup melaporkan saja harga Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo pada Menteri ESDM. Meski begitu dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 membatasi margin keuntungan untuk BBM umum sebesar 5-10%.

Sebelumnya, pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria menilai, kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax, Turbo, Pertalite, Dex dan Dexlite yang dijual Pertamina atau badan usaha lain seperti Shell, Total dan AKR disebabkan naiknya harga minyak dunia sejak bulan lalu.

Baca Juga:   BSM Targetkan Tampung Dana Repatriasi Rp 10 Triliun

“Harga BBM yang naik hanya yang non subsidi (harga keekonomian) yang dijual Pertamina dan badan usaha lain memang mengikuti harga pasar yang pada bulan lalu rata-rata berada di angka US$ 44-47 per barel, saat ini naik US$ 52-55 per barel sehingga tentu saja harga produk juga ikut naik,” katanya.

Sofyano menambahkan, kenaikan harga jual BBM keekonomian (non subsidi) juga terjadi di seluruh dunia, kecuali pada negara-negara yang memang masih mensubsidi BBM-nya seperti Indonesia. Bukan karena naiknya harga minyak dunia, harga BBM non subsidi/keekonomian juga terpengaruh dengan kurs US Dollar.

Masih menurut dia, kenaikan MOPS selama 2 minggu dari 15 – 30 Desember rata-rata sebesar 6.5%, sehingga jika mengacu pada MOPS maka seharusnya kenaikan harga minimal Rp 500 per liter sementara Pertamina hanya menaikkan Rp 300 per liter atau sebesar 4% saja.

Sofyano juga mengaku heran jika kenaikan harga BBM non subsidi dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menaikkan harga bahan bakar pokok. Seharusnya harga bahan pokok tak terpengaruh dengan kenaikan BBM non-subsidi.

Pertamina : Wajar Harga BBM Non Subsidi Turun Naik | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya