Muliman : Keuangan Syariah Mampu Berantas Kemiskinan

Share:

diposkan-muliaman2

Diposkan.com – Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, jika keuangan berbasis syariah adalah salah satu solusi dunia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB.

“Prinsip-prinsip khas keuangan syariah yang memihak pada pemerataan pendapatan dan berorientasi pada kegiatan sosial lingkungan, menjadikan pengembangan sistem keuangan syariah menjadi sangat relevan dengan pencapaian target-target SDGs,” kata Muliaman di Jakarta, Minggu (9/10).

Muliaman juga menyatakan jika keuangan syariah sangat bisa diandalkan dalam upaya pemberantasan kemiskinan. Dirinya juga meyakini, keuangan syariah mampu meningkatkan kesehatan, penyediaan pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, antisipasi perubahan iklim dan juga penurunan tingkat ketimpangan tingkat pendapatan.

Kata Muliaman, OJK sebagai otoritas sektor jasa keuangan di Indonesia terus mendorong perkembangan sektor keuangan syariah mulai dari sektor perbankan syariah, IKNB syariah dan pasar modal syariah. Dirinya juga menjabarkan, jika share industri perbankan syariah terhadap perbankan nasional di 2016 mengalami kenaikan ketimbang 2015.

Berdasarkan data yang ada pada bulan Juli 2016, misalnya, share-nya mencapai 4,81% sementara Juli 2015 sebesar 4,60%. Dan, share tersebut diperkirakan bakal naik hingga 5,13% apabila memperhitungkan hasil konversi BPD Aceh menjadi Bank Umum Syariah.

Sejalan dengan kenaikan share tersebut, kata Muliaman, terjadi kenaikan atas aset perbankan syariah (BUS dan UUS) sebesar 18,49% (year on year/yoy). Dari Rp272,6 triliun (Juli 2015) menjadi Rp305,5 triliun (Juli 2016). Kenaikan ini dikarenakan masuknya aliran dana pihak ketiga sebesar 12,54% (yoy).

Sebanyak Rp216 triliun (Juli 2015) menjadi Rp243 triliun (Juli 2016) yang selanjutnya telah mendorong penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 7,47% (yoy), dari Rp204,8 triliun (Juli 2015) menjadi Rp220,1 triliun. Sementara dari sisi kualitas pembiayaan, lanjut Muliaman, NPF gross mengalami penurunan (yoy) dari 4,89% (Juli 2015) menjadi 4,81% (Juli 2016). Sementara profitabilitas yang tercermin dari rasio ROA meningkat dari 0,91% (Juli 2015) menjadi 1,06% (Juli 2016). Sedangkan rasio BOPO membaik dari 94,19% (Juli 2015) menjadi 92,78% (Juli 2016).

Baca Juga:   Pengangguran Intelektual Meningkat di Jawa Barat

Muliaman menambahka adanya peningkatan kecukupan permodalan perbankan syariah yang tercermin dari kenaikan rasio CAR, yaitu dari 14,47% (Juli 2015) menjadi 14,86% (Juli 2016). Sementara untuk pasar modal syariah, persentase nilai masing-masing efek syariah dari total efek per tanggal 23 September 2016 adalah sebagai berikut, saham syariah sebesar 55,97%, sukuk korporasi sebesar 3,88%, reksa dana syariah sebesar 3,76% dan sukuk negara sebesar 15,08%.

Sedangkan perkembangan industri keuangan non bank (IKNB) berbasiskan syariah sampai Juli 2016, cukup pesat juga. Di mana, total aset IKNB syariah meningkat 23,18% menjadi Rp80,1 triliun. Pertumbuhan aset didominasi oleh penambahan pelaku usaha serta pengembangan produk dan layanan IKNB Syariah.

Sementara, sukuk Indonesia di lingkup global telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan yang mencapai sekitar 23,3%, atau sekitar 10,15 miliar dolar AS dari total penerbitan sovereign sukuk internasional. Indonesia juga menjadi negara pertama yang memiliki sukuk retail.

Muliaman menyampaikan, pasar modal syariah juga bisa berperan signifikan dalam membantu pembiayaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, terutama melalui pengembangan pasar sukuk.

Muliman : Keuangan Syariah Mampu Berantas Kemiskinan | Fisika Fikri | 4.5 | Tag: cukup pesat adalah

Kirim Komentar

Berita Lainnya