Penurunan Harga BBM Jangan Terlalu Banyak

Share:

bbm-turun

Diposkan.com – Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi menyarankan agar penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak terlalu banyak karena hal itu sangat berisiko jika di kemudian hari terjadi kembali kenaikan harga BBM.

“Dengan penurunan yang terlalu banyak, potensi besaran angka jika terjadi lagi kenaikan, tentu akan tinggi pula. Ini bisa mengundang demo besar-besaran,” katanya di Jakarta, Rabu (9/3) seperti yang dilansir dari kontan.co.id.

Kurtubi menilai penurunan harga minyak dunia tetap menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk menurunkan harga BBM melalui instrumen kebijakan harga.Namun dia tak sependapat dengan beberapa kalangan yang meminta penurunan harga hingga ke angka Rp 5.000 per liter.

Terlebih lagi jika beberapa kalangan membandingkan harga BBM di Indonesia dengan negara tetangga, semisal Singapura dan Malaysia. menurutnya itu adalah hal yang kurang pas karena dari segi kondisi geografis dan luas wilayah saja, Indonesia jauh lebih besar dan luas dibandingkan negara tetangga sehingga biaya angkut di Tanah Air jauh lebih mahal daripada kedua negara tersebut.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara juga berpendapat bahwa penurunan itu hendaknya jangan terlalu banyak karena akan berdampak buruk untuk jangka panjang.

Menurut dia, jika tingkat “domestic price” BBM terlalu rendah, dapat meningkatkan konsumsi BBM yang cenderung akan sangat boros. Jika kondisi demikian terus terjadi, tentu sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional karena di sisi suplai saat ini justru mengalami penurunan.

Baca Juga:   Kilang Mini Usaha Strategis Kurangi Subsidi BBM

Sementara Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara menyatakan bahwa SPBU asing yang saat ini menjual harga BBM lebih mahal ketimbang Pertamina. Untuk itu, seharusnya pemerintah melalui BPH Migas menjalankan fungsi regulator untuk mengatur harga minyak di SPBU asing.

Saat ini harga minyak di SPBU asing memang lebih mahal. Shell, misalnya, menjual jenis v-power Rp 9.100/liter, jauh lebih tinggi daripada pertamax 95 keluaran Pertamina, yakni Rp 8.850/liter.

Marwan menilai bedasarkan pada formula yang sudah ditetapkan, harga jual Shell memang jauh lebih tinggi. Jika mengacu langsung pada Means of Platt Singapore (MOPS) plus biaya distribusi 2 persen, plus margin SPBU, harga Shell jenis super, misalnya, seharusnya Rp 7.000/liter karena hanya dijual di Jakarta.

Marwan juga mengimbau masyarakat agar lebih jeli. Kalau harga sudah mahal, sebaiknya tidak usah dibeli karena secara kualitas sebenarnya produk Pertamina juga lebih baik. Terlebih  produk yang dijual Pertamina yang merupakan perusahaan negara, yang 100% milik rakyat.

Penurunan Harga BBM Jangan Terlalu Banyak | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya