Minyak Murah, Arab Saudi Ajak Produsen Minyak Kerja Sama

Share:

Minyak-dunia

Diposkan.com – Merosotnya harga minyak mempengaruhi pendapatan bagi negara pengekspor minyak. Arab Saudi selaku salah satu negara pengekspor minyak menjadi salah satu negara yang terdampak dengan terus jatuhnya harga minyak dunia. Terlebih lagi negara ini  telah dipaksa untuk memotong pengeluaran pemerintah dalam anggaran mendatang dan meningkatkan produksi minyak mentah.

Melansir  CNBC Jumat (5/2), banyak negara yang tergantung pada minyak harus menggali lebih dalam untuk menyeimbangkan anggaran. Bagi negara kaya seperti Qatar dan Kuwait terlihat mudah melakukan hal itu. Namun bagi  negara-negara miskin seperti Libya justru membuat perselisihan dan perang sipil. Menurut International Monetaruy Fund (IMF), Libya diperkirakan butuh menjual minyak seharga USD 269 per barel untuk menyeimbangkan anggaran.

Sementara Arab Saudi termasuk sebuah negara yang stabil dengan cadangan yang cukup besar dari aset cadangan sekira USD 624 miliar. Namun. kebanyakan stabilitas itu digunakan untuk pekerjaan pemerintah dan belanja publik, terlebih saat ini harga minyak sudah jatuh cukup dalam yang membuat perbedaan nilai aset tersebut.

Berdasarkan data pada Agustus 2015, ketika minyak seharga antara USD 48 dan USD 41 per barel, diperkirakan Saudi akan bangkrut pada bulan Agustus 2018. Namun prediksi tersebut didasarkan pada harga minyak di USD 40 per barel dan sebelum negara itu memotong belanja publik.

Pada tahun 2016, Arab Saudi melakukan pemotongan sebesar 13,8 persen dari anggaran 2015. Namun negara ini tetap diperkirakan akan mencapai defisit anggaran 12,9 persen dari PDB pada tahun 2016 menurut bank investasi.

Baca Juga:   Sri Mulyani Ingatkan Ditjen Intelijen Pajak Tidak Memeras Wajib Pajak

Selain kebijakan pemotongan belanja, Arab Saudi juga mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan produkai minyak, lebih dari 10 juta barel per hari pada Oktober. Hal ini tentu membuat peningkatan pasokan minyak di pasar global yang diproyeksikan menjadi 95 juta barel per hari pada kuartal pertama 2016, dan konsumsi sekitar 94 juta.

Isu perlambatan ekonomi di China menjadi salah satu faktor yang  sering disalahkan untuk menurunnya banyak permintaan. Di sisi penawaran, produsen shale Amerika Serikat (AS) telah terbukti lebih tahan lama dalam iklim ekonomi yang keras.

Sementara itu, Iran juga telah bersiap memasuki pasar minyak dalam beberapa pekan terakhir setelah pencabutan sanksi internasionalnya. Negara Republik Islam memproduksi sekira 1,1 juta barel per hari dan telah mengatakan tidak akan mempertimbangkan untuk memangkas produksi sampai tumbuh menjadi 1,5 juta.

Pada hari Jumat lalu seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Dow Jones bahwa negara tidak akan berpartisipasi dalam kesepakatan antar negara-negara OPEC dan Rusia yang bersepakat untuk  mengurangi produksi.

Padahal, Arab Saudi telah mengatakan sebelumnya bahwa mereka akan setuju untuk mengurangi produksi jika kedua anggota OPEC dan negara-negara non-OPEC akan melakukan hal yang sama.

Minyak Murah, Arab Saudi Ajak Produsen Minyak Kerja Sama | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya