Angka Kemiskinan di Jawa Timur Menurun

Share:

BI/hal Cap foto Eds 031111 wd File:4tebu 2 BISNIS/WAHYU DARMAWAN Pekerja memanen tanaman tebu di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (02/11). Produksi gula sepanjang 2011 diperkirakan mencapai 2,1 juta ton atau sekitar 77% dari proyeksi 2,7 ton yang ditetapkan sebelum masa giling. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyatakan penurunan produksi tersebut akibat anomali cuaca, sehingga tebu tidak tumbuh maksimal dan memiliki rendemen rendah.

Diposkan.com – Persentase penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur diklaim turun 0,20 poin, dari 12,05 persen pada Maret 2016 menjadi 11,85 persen pada September 2016. Jumlah penduduk miskin turun sebanyak 64,77 ribu jiwa, dari 4,70 juta jiwa pada Maret 2016 menjadi 4,63 juta jiwa pada September 2016.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, sejak 2008 presentase kemiskinan di Jatim selalu turun. Pada 2008, presentase penduduk miskin di Jatim mencapai 18,51 persen dari total penduduk. Menurutnya ketiga faktor yang menyebabkan penurunan akngka kemiskinan di Jawa Timur.

Di antaranya, selama periode Maret–September 2016 hanya terjadi inflasi sebesar 1,36 persen. Harga beras juga mengalami penurunan 2,31 persen, dari Rp 9.690 per kilogram pada Maret 2016 menjadi Rp 9.466 per kilogram pada September 2016.

“Selama periode Maret–September 2016, selain beras harga eceran, beberapa komoditas bahan pokok mengalami penurunan seperti telur ayam ras, tempe dan tahu, masing-masing turun sebesar 1,35 persen, 3,79 persen, dan 0,49 persen,” jelasnya kepada wartawan di kantor BPS Jatim, Selasa (3/1) yang dilansir melalui republika.co.id.

Dilihat dari segi daerah penduduk miskin di perkotaan turun 0,03 poin dari 7,94 persen menjadi 7,91 persen. Sedangkan presentase penduduk miskin di desa turun 0,18 poin dari 16,01 persen menjadi 15,83 persen. Meskipun terjadinya penurunan angka kemiskinan jumlah penduduk di Jawa Timur  bertambah, dari 1,51 juta jiwa pada Maret 2016 menjadi 1,55 juta jiwa pada September 2016. Sedangkan jumlah penduduk miskin di desa berkurang, dari 3,18 juta jiwa menjadi 3,08 juta jiwa.

Baca Juga:   Inflasi Diprediksi Hanya 3,2 Persen Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Teguh menjelaskan, penghitungan angka kemiskinan menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic need aprroach) dengan menarik garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan harga yang dibayar oleh kelompok acuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan nonpangan asensial seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lainnya.

Berdasarkan hasil survei nasional, pada periode Maret–September 2016, garis kemiskinan meningkat sebesar 2,30 persen atau naik Rp 7.411 per kapita per bulan, yakni dari Rp 321.761 per kapita per bulan menjadi Rp 329.172 per kapita per bulan. Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan.

Pada September 2016, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan hampir sama. Beras memberikan sumbangan sebesar 19,32 persen di perkotaan dan 22,45 persen di pedesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua pada garis kemiskinan, yakni 10,59 persen di perkotaan dan 12,16 persen di pedesaan.

“Komoditas lainnya yang mempengaruhi adalah daging sapi, gula pasir, telur ayam ras, tempe, dan tahu,” katanya.

Angka Kemiskinan di Jawa Timur Menurun | Fisika Fikri | 4.5

Kirim Komentar

Berita Lainnya